Di Bali Siwaratri dilaksanakan pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha (panglong ping 14 sasih Kapitu) yang jatuh pada hari ini.
Di Bali, Siwaratri selalu dikaitkan dengan cerita Lubdaka. Konon, pada malam Siwaratri, Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan melakukan yoga. Saat yang bersamaan, dikisahkan seorang pemburu bernama Lubdaka kemalaman di hutan dan akhirnya menginap. Agar tidak dimakan binatang buas, si Lubdaka naik ke pohon. Agar tetap terjaga, sebagai pengusir kantuk, si Lubdaka memetik dan menjatuhkan daun-daun pohon yang dipanjatnya dan kebetulan di bawah pohon tersebut ada sebuah lingga Dewa Siwa, jadi secara tidak langsung Lubdaka melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa tepat di saat Beliau beryoga.Berkat pemujaan yang tidak disengaja tersebut Lubdaka ketika meninggal bisa masuk sorga.
Dalam kitab-kitab Hindu versi di Bali, pangelong 14 itu disebut Siwaratri, di mana Dewa Siwa melakukan semadi di malam yang gelap dan umat manusia yang mengikuti jejak Siwa mendapatkan anugerahnya. Dalam 12 kali Siwaratri, ada yang disebut Mahasiwaratri, ini malam tergelap dibandingkan Siwaratri yang lain, dan itu terjadi pada pangelong 14 Sasih Kepitu. Nah, di Indonesia, khususnya Bali, Mahasiwaratri ini disebut Siwaratri dan Siwaratri yang datang setiap bulan diabaikan.
Biasanya di hari Siwaratri umat Hindu di Bali melakukan puasa/brata dan malam harinya tidak tidur diinspirasi dari cerita Lubdaka. Pada momen Siwaratri ini SSG Denpasar mengadakan kegiatan Abhiseka Ganesha, Abisheka Linggam dan dilanjutkan dengan Bhajan sampai pukul 6 pagi.




