Archive for the 'Perayaan Siwaratri' Category

Perayaan Siwa Ratri

Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Diakui atau tidak, manusia sering lupa, karena memiliki keterbatasan. Kerena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkan upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagralah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

Di India, setiap menjelang bulan mati (setiap bulan) umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini suatu pertanda, bah-wa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Dalam kepustakaan Sanskerta, keutamaan brata Siwa Ratri diuraikan dalam kitabkitab Purana, misalnya Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana. Siwa Purana, pada bagian Jñana Samhita memaparkan keutamaan brata Siwa Ratri dan tata-cara merayakan malam suci terbut. Di situ ada dimuat tentang dialog antara seseorang bernama Suta dan para rsi. Dalam percakapan tersebut, dikisahkanl seseorang yang kejam bernama Rurudruha. Ia menjadi sadar akan dosa-dosa yang telah diperbuat setelah melakukan brata Siwa Ratri. Berkat bangkitnya kesadarannya, ia tinggalkan semua perbuatan dosa, lalu dengan mantap berjalan di jalan dharma.

SSG Denpasar merayakan malam Siwa Ratri  dengan melantumkan nama Tuhan/Bhajan semalam suntuk. Perayaan ini  dimulai pukul 5 sore yang diawali dengan abhiseka Ganesha dan abhiseka Linggam kemudian dilanjutkan dengan Nagasankirtan. Sebelum Bhajan dimulai dicantingkan Strotram Siwa, bhajan dimulai pukul 6:30 sampai dengan pagi hari pukul 6.30 pagi.

 

 

 

 

 

 

Perayaan Siwaratri

Di Bali Siwaratri dilaksanakan pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha (panglong ping 14 sasih Kapitu). Di Bali, Siwaratri selalu dikaitkan dengan cerita Lubdaka. Konon, pada malam Siwaratri, Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan melakukan yoga. Saat yang bersamaan, dikisahkan seorang pemburu bernama Lubdaka kemalaman di hutan dan akhirnya menginap. Agar tidak dimakan binatang buas, si Lubdaka naik ke pohon. Agar tetap terjaga, sebagai pengusir kantuk, si Lubdaka memetik dan menjatuhkan daun-daun pohon yang dipanjatnya dan kebetulan di bawah pohon tersebut ada sebuah lingga Dewa Siwa, jadi secara tidak langsung Lubdaka melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa tepat di saat Beliau beryoga.Berkat pemujaan yang tidak disengaja tersebut Lubdaka ketika meninggal bisa masuk sorga.

Kata Lubdaka sendiri sebenarnya memiliki arti pemburu. Lubdaka ini menyimbolkan manusia yang merupakan seorang pemburu dalam banyak hal, seperti pemburu harta, pemburu ilmu, pemburu wanita, pemburu spiritualitas, dll. Di cerita ini juga Lubdaka dikatakan berburu hanya menggunakan panah yang sesungguhnya memiliki arti Manah (panah–>manah), dimana pikiran merupakan suatu sarana terpenting guna mencapai hal yang diburu. Apa yang diburu? ada 3 hewan yang diburu Lubdaka yang anehnya ketiga hewan tersebut sulit dibunuh dengan panah. Hewan tersebut adalah gajah (Asti), Babi Hutan (Waraha/warak dibaca Uaraha/Uarak) dan Macan (Macan). Apabila kita mengambil hurup depannya saja maka yang diburu sebenarnya adalah A-U-M (OM) yang merupakan lafal suci Ida Sang Hyang Widhi. Lubdaka juga berburu melewati Hutan dan Gunung. Gunung merupakan acala atau linggam yang merupakan simbol Siwa, jadi Lubdaka difilsafatkan seseorang yang ingin ke jalan Tuhan.
Pada malam harinya Lubdaka memanjat pohon Bila. Kata bila ini dapat diartikan sama dengan Wira. Lubdaka ingin mencari suatu kejayaan dan kebenaran abadi. Pohon bila merupakan pohon yang berduri atau medui  yang dapat dihubungkan dengan kata dwi/dua (medui–>dwi). Di dunia ada dua hal yang selalu berdampingan yaitu Rwa-Bhineda. Duri juga melambangkan resiko dan hambatan. Jadi seorang pemburu apabila ingin mencapai kejayaan dan kebenaran abadi maka harus berani mengatasi hambatan yang ada. Cerita terus berlanjut hingga Lubdaka berhasil masuk Swarga Loka karena dosanya diampuni ( sumber : Bapak Suja).

Pada momen Siwaratri ini SSG Denpasar mengadakan kegiatan Abhiseka Ganesha, Abisheka Linggam dan dilanjutkan dengan Bhajan semalam suntuk sampai pukul 6 pagi.

© SSG Denpasar, All Rights Reserved.