Archive for the 'Pendidikan' Category

Seminar & Workshop ” Penyelamatan Bumi “

Hari ini Forum Educare Bali bekerjasama dengan SSG Denpasar mengadakan seminar dan Workshop dengan tema ” Penyelamatan Bumi”. Acara ini diselenggarakan di Aula Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Provinsi Bali yang dihadiri oleh OSIS SMA/SMK se-kota Denpasar dengan jumlah peserta sekitar 250 orang.Acara dimulai pukul 08.30 pagi sampai dengan pukul 16:00

Pembicara I dari Forum Educare Bali yang diwakili oleh Bro Vikas mengenai Efek dari Global Warning dilanjutkan oleh pembicara ke-2 Ibu Yuyun dari Bali Focus dengan tema Aplikasi dalam mencegah Gobal Worning. Pembicara terakhir dari Kepala Badan Lingkungan Hidup Bali tentang Gambaran Umum Lingkungan Bali sekarang dan di masa depan.

Dalam workshop ini kita diingatkan bahwa kita sebagai mahluk yang paling sadar diharapkan ikut ambil bagian dalam penyelamatan bumi ini. Bumi ini sekarang dalam proses yang buruk karena ulah manusia sendiri, langkah yang dilakukan adalah memberi info ke orang lain tentang langkah langkah dalam menyelamatkan bumi yang kita cintai ini.  Kalau tidak bisa minimal diri kita dan dari keluarga kita sendiri kita bisa menerapkan langkah langkah kecil ikut ambil bagian dalam penyelamatn bumi ini.

Secara ilmiah sudah banyak bukti bahwa dunia ini diambang bahaya seperti mencairnya es di kutub yang membuat permukaan air laut semakin tinggi, system musim berubah dan menjadi kacau.  Di Bali sendiri khususnya di Denpasar banyak orang mengeluh musim panas kali ini suhu panasnya melebihi musim panas tahun-tahun sebelumnya.
Bukti lain setiap tahun baru Bali Post (beberapa tahun yg lalu) dengan sengaja memotret dari udara pesisir pantai di Bali, ternyata pantai pesisir diBali telah banyak mengalami abrasi. Ada cerita lucu di Desa Lebih Gianyar yaitu seseorang mempunyai sertifikat tanah namun tanahnya sudah tidak ada lagi karena sudah mengalami abrasi. Mungkin beberapa teman pada  tahun 1980 an mengetahui kondisi Pantai Candi Dasa dan Pantai Lebih dan bisa dibandingkan keadaannya dengan sekarang ini…sangat menyedihkan.

Contoh  kecil yang kita lakukan ikut ambil bagian penyelamatan bumi salah satunya yaitu menghemat energi : contohnya mematikan lampu jika tidak dipakai, membangun rumah baru dengan konsep green yaitu konsep tanpa menggunakan AC, berjalan kaki pada jarak pendek, mengendari sepeda, memisahkan sampah organik dan plastik, dll.
Di negara negara maju seperti Belanda, Inggris, Jepang dll sangat paham akan  lingkungan hidup kebanyakan mereka tidak menggunakan kendaraan bermotor, orang kaya sekalipun biasa menggunakan sepeda gayung dan berjalan kaki karena selain sehat juga mengurangi polusi udara. Dari beberapa teman, kita dengar cerita bahwa banyak pekerja disana berjalan kaki ketempat kerja, mereka berjalan kaki sampai 2 jam ketempat kerjanya. Itu membuat mereka sehat.  Dinegeri Belanda dan Inggris orang kaya sekalipun mereka lebih suka berjalan kaki atau memakai sepeda gayung sehingga daya hidup/kesehatan mereka tinggi dan rata-rata kematian umurnya 90 tahunan jauh berbanding dengan di Indonesia.  Di Indonesia selalu ketinggalam mode mudah dibudak oleh teknologi, orang-orang kaya baru tidak akan mau berlajan kaki ataupun bersepeda walau dalam jarak dekat. Kalau sudah difonis penyakit tertentu baru mereka sadar. Namun sekarang ini kesadaran lingkungan hidup mulai berkembang di Indonesia, kita bisa lihat di taman-taman kota setiap hari orang sengaja berjalan kaki, bersepeda untuk membuat mereka sehat.  Contoh Di Denpasar dilapangan renon pada pagi hari sabtu dan minggu dipakai sebagai zone bersepeda.

Mari kita dukung program penyelamatan bumi ini dimulai dari kita sendiri.   “Go Green“.

Dharma Tula

Hari ini SSG Denpasar mengadakan Dharma Tula dengan topik ” Memaknai Galungan dan Kuningan sebagai Wahana Kebangkitan Spiritual”. Pembicara : Bapak Ketut Wiana dan Bapak Ketut Donder, Moderator :  Bro Aripta (Acharya) bertempat di Gedung SD Sathya Sai Lantai 3.

Menjelang beberapa minggu lagi Umat Hindu di Bali menyelenggarakan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Kedua pembiacara diatas memberikan makna tentang Galungan dan Kuningan.  Bagi umat yang belum memiliki kesadaran spiritual atau jnana perayaan Galungan dan Kuningan adalah rutinitas belaka. Bukan kemenangan Dharma melawan Adharma namun dikatakan dengan sentilan humor ” Kemenangan Blakas melawan Celeng” ( kemenangan pisau melawan babi).

Pada bagian tanya jawab ada peserta yang bertanya apa sih esensi dari Galungan? Kemenangan apa melawan apa sehingga kita perlu merayakannya?
Saudara kita umat Muslim  merayakan lebaran karena sebelumnyamereka melakukan tapa mengendalikan pikiran,perbuatannya dan melakukan tapa puasa selama sebulan. Begitu juga perayaan Navaratri di India berturut-turut selama 10 hari meraka melakukan sadhana dan puasa sebelum puncak acara perayaan Vijaya Dhasami.

Di Bali sebelum hari Raya Galungan apa yang kita lakukan?
Selama ini kita belum pernah melihat umat Hindu khususnya di Bali melakukan tapa dan sadhana sebelum Hari Raya Galungan …jadi yang menjadi pertanyaannya apa..yang sebenarnya kita rayakan?  kalo melawan Adharma .. tindakan apa yang telah kita buat sehingga kita punya anggapan kita menang dalam melawan Adharma?.
Sebenarnya ini adalah realita yang perlu kita tanyakan.

Kedua pembicara diatas memberikan masukan bahwa memang fenomena itu yang terjadi sekarang ini bahwa banyak orang tidak mengerti filosofi atau makna dari perayaan agama, khususnya Hari Raya Galungan dan Kuningan. Sebelum hari raya Galungan ada rangkaian acara seperti sugian bali, jawa, penyajaan maupun penampahan semuanya mempunyai filosofi yang dalam namun banyak yang tidak mengerti maksudnya. Kita sebagai Bhakta Swami diharapkan mengerti filosofi yang dikandung pada setiap hari raya dan menghargai tradisi budaya seperti yang Beliau Wacanakan. Mereka yang belum memahami akan memerlukan proses evolusi, kita tidak bisa merubah mereka yang tidak sadar secara instant.
Dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga, kita berusaha memaknai Hari Raya Galungan,Kuningan dan momen momen hari raya yang lain untuk kebangkitan spiritual kita.



© SSG Denpasar, All Rights Reserved.