Dharma Tula
Hari ini SSG Denpasar mengadakan Dharma Tula dengan topik ” Memaknai Galungan dan Kuningan sebagai Wahana Kebangkitan Spiritual”. Pembicara : Bapak Ketut Wiana dan Bapak Ketut Donder, Moderator : Bro Aripta (Acharya) bertempat di Gedung SD Sathya Sai Lantai 3.
Menjelang beberapa minggu lagi Umat Hindu di Bali menyelenggarakan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Kedua pembiacara diatas memberikan makna tentang Galungan dan Kuningan. Bagi umat yang belum memiliki kesadaran spiritual atau jnana perayaan Galungan dan Kuningan adalah rutinitas belaka. Bukan kemenangan Dharma melawan Adharma namun dikatakan dengan sentilan humor ” Kemenangan Blakas melawan Celeng” ( kemenangan pisau melawan babi).
Pada bagian tanya jawab ada peserta yang bertanya apa sih esensi dari Galungan? Kemenangan apa melawan apa sehingga kita perlu merayakannya?
Saudara kita umat Muslim merayakan lebaran karena sebelumnyamereka melakukan tapa mengendalikan pikiran,perbuatannya dan melakukan tapa puasa selama sebulan. Begitu juga perayaan Navaratri di India berturut-turut selama 10 hari meraka melakukan sadhana dan puasa sebelum puncak acara perayaan Vijaya Dhasami.
Di Bali sebelum hari Raya Galungan apa yang kita lakukan?
Selama ini kita belum pernah melihat umat Hindu khususnya di Bali melakukan tapa dan sadhana sebelum Hari Raya Galungan …jadi yang menjadi pertanyaannya apa..yang sebenarnya kita rayakan? kalo melawan Adharma .. tindakan apa yang telah kita buat sehingga kita punya anggapan kita menang dalam melawan Adharma?.
Sebenarnya ini adalah realita yang perlu kita tanyakan.
Kedua pembicara diatas memberikan masukan bahwa memang fenomena itu yang terjadi sekarang ini bahwa banyak orang tidak mengerti filosofi atau makna dari perayaan agama, khususnya Hari Raya Galungan dan Kuningan. Sebelum hari raya Galungan ada rangkaian acara seperti sugian bali, jawa, penyajaan maupun penampahan semuanya mempunyai filosofi yang dalam namun banyak yang tidak mengerti maksudnya. Kita sebagai Bhakta Swami diharapkan mengerti filosofi yang dikandung pada setiap hari raya dan menghargai tradisi budaya seperti yang Beliau Wacanakan. Mereka yang belum memahami akan memerlukan proses evolusi, kita tidak bisa merubah mereka yang tidak sadar secara instant.
Dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga, kita berusaha memaknai Hari Raya Galungan,Kuningan dan momen momen hari raya yang lain untuk kebangkitan spiritual kita.


